PEMANFAATAN SAMPAH KERING MENJADI PUPUK KOMPOS UNTUK MENDUKUNG PERTANIAN BERKELANJUTAN
DOI:
https://doi.org/10.53580/dimastek.v6i1.92Keywords:
Pengelolaan Sampah, Panyileukan Bandung, PertanianAbstract
Pengelolaan sampah di Indonesia hingga saat ini masih menghadapi berbagai tantangan, di mana sebagian besar sampah yang dihasilkan berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) sehingga menyebabkan beban TPA semakin berat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah sampah plastik di Indonesia telah mencapai sekitar 66 juta ton per tahun. Tingginya timbulan sampah tersebut belum diimbangi dengan kemampuan pengelolaan yang memadai, baik dari aspek operasional maupun teknis, sehingga menjadi salah satu kendala utama dalam sistem pengelolaan sampah nasional. Selain itu, keterbatasan kapasitas lahan TPA yang semakin menyempit menuntut adanya metode pengelolaan sampah yang lebih terpadu dan berkelanjutan melalui sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat, terutama dengan upaya pengurangan sampah langsung dari sumbernya. Dari perspektif kesehatan lingkungan, sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan berbagai risiko kesehatan bagi masyarakat. Timbunan sampah berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya mikroorganisme patogen yang dapat menyebabkan penyebaran penyakit. Selain itu, pencemaran sampah terhadap sumber air dapat mengakibatkan kontaminasi air dan meningkatkan risiko penularan penyakit melalui konsumsi air yang tercemar. Oleh karena itu, diperlukan upaya konkret dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat sebagai solusi terhadap permasalahan lingkungan dan kesehatan. Sebagai bentuk tanggapan terhadap permasalahan tersebut, diselenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan judul Pemanfaatan Sampah Kering Menjadi Pupuk Kompos untuk Mendukung Pertanian Berkelanjutan di RW 10, Kelurahan Cipadung Kidul, Kecamatan Panyileukan, Kota Bandung. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah sampah melalui pelatihan pembuatan kompos yang dapat diterapkan secara langsung. Kompos yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk tanaman rumah tangga maupun kegiatan pertanian sehingga membantu meningkatkan hasil panen. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya mengurangi timbunan sampah, tetapi juga mendukung pertanian berkelanjutan dan pelestarian lingkungan.

